Sel05212013

Last update03:03:38

Gagal Raih Adipura, Jangan Salahkan Rakyat

Catatan Cakrawala

 

UNTUK kesekian kalinya, Kota Makassar gagal meraih Piala Adipura, salah satu penghargaan tertinggi bidang kebersihan dan keindahan kota. Bahkan, dalam dua periode kepemimpinan Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin, Adipura tak pernah lagi menjadi barang berharga bagi Makassar.

Sudah sekian lama kota ini rindu dengan penghargaan seperti itu. Soalnya, tanpa Adipura, Makassar semakin terkesan dengan kota yang semrawut dan jorok.

Tugu Adipura di Tello sana menjadi saksi sejarah betapa Makassar di beberapa dekade sebelumnya menjadi sebuah kota yang indah dan sedap dipandang mata. Keindahan dan kebersihan kota menjadi prioritas dalam menjaga keasrian Makassar yang tertib.

Tak salah jika wali kota sebelumnya memberi satu gelar bersejarah bagi Makassar sebagai Kota Bersinar, karena memang suasana kota ketika itu memang cukup nyaman dengan tumbuhan pohon yang rindang, lalu sampah tak dibiarkan berserakan di mana-mana.

Kali ini, gelar Kota Bersinar seperti tinggal kenangan. Semoga ke depan, ada sosok wali kota yang ngotot untuk meraih Adipura ini sebagai bukti bahwa kota ini memang nyaman dihuni meski penduduk semakin meningkat.

Sosok wali kota yang peduli dengan kebersihan sa­ngat dinanti-nantikan saat ini. Soalnya, untuk menjadi Kota Dunia, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan kota dan banyaknya area hijau yang membuat kita nyaman.

Adipura memang merupakan satu simbol untuk me­ngapresiasi nilai kebersihan dan keindahan kota. Itu tak dapat dipungkiri. Adipura jangan dianggap label semata untuk menghindari sorotan dari masyarakat.

Yang mengherankan karena pemerintah kota dan para pemimpin kita justru menyalahkan masyarakat ketika Adipura itu gagal dicapai. Pemerintah sebaiknya jangan lepas tangan dan justru mengkambinghitamkan masyarakat jika program tak tercapai.

Apapun alasannya, kebersihan adalah bagian dari program pemerintah yang mau tidak mau harus tercapai dengan cara apapun. Jika armada dan honor petugas kebersihan kurang, solusinya, sebaiknya alokasikan anggaran yang cukup untuk menambah armada dan infrastruktur serta pendukung lainnya.

Yang terjadi justru terlalu banyak pemborosan di mana-mana. Pejabat makin sering ke luar negeri untuk satu kegiatan yang tak terlalu prioritas. Andai saja anggaran jalan-jalan itu dialihkan untuk mendukung kinerja kebersihan mungkin sedikit membantu.

Wali kota dan jajarannya seharusnya gentlemen me­ngakui bahwa kegagalan Adipura adalah tanggung jawab Pemkot Makassar, bukan dengan menyalahkan warga yang membuang sampah di sembarang tempat.

Pemkot membutuhkan satu langkah penting agar instruksi membuang sampah pada tempatnya didengarkan masyarakat. Contohnya, dengan menyediakan bak sampah yang memadai, dan mengangkut sampah tepat waktu.

Yang perlu dievaluasi, apakah pemimpin kota ini sudah fokus dalam menggarap program termasuk kebersihan kota untuk mencapai Adipura? Dewan pun menyorot bahwa perda terkait kebersihan yang sudah ada tidak terkawal dengan baik. Untuk itu, jangan urus yang lain jika masih ada pekerjaan tak beres.  (*)