Sab05252013

Last update12:41:52

Pesta Rakyat Mappadendang di Parepare

PAREPARE, CAKRAWALA --SEJUMLAH wanita yang menge­nakan baju khas bugis, baju bodo, berdiri berjajar di sepanjang sisi lesung, atau yang dikenal dengan sebutan palungeng.

Masing-masing wanita itu memegang alat tumbuk (alu), dan me­lakukan ketukan taratur ke dalam lesung di hadapan mereka. Ketukan alu yang mengeluarkan irama yang nyaman di telinga itu dinamai mappadendang.

Pemandangan itu terjadi Selasa, 12 Juni dinihari  dalam acara pesta syukuran setelah panen. Acara ini digelar semalam suntuk dan irama ketuk alu merupakan salah satu tontonan yang mengisi acara ini.

Di Parepare, mappadendang merupakan acara yang lazim ditemui setiap pascapanen, termasuk yang terjadi di salah satu keluarga di Kelurahan Lapadde, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Sulawesi Selatan ini.

Irama merdu dari ketukan alu terbukti mampu menarik perhatian warga sekitar. Mereka pun betah dan bertahan menyaksikan pesta syukuran itu semalam suntuk.  Acara semacam ini merupakan bentuk ungkapan syu­kur kepada Yang Kuasa, atas hasil panen yang telah dilimpahkanNya.

Sebelum mappadendang yang dilaksanakan malam hari, pada pagi hari dilaksanakan penyembelih­an hewan kurban berupa sapi atau kambing. Daging sembelihan itu lalu dihidangkan dan disantap bersama warga lain di tengah sawah, Warga juga menyediakan nasi ketan alias sokko tiga warna untuk dipersembahkan (pangolo) kepada Yang Maha Kuasa.

“Sekiranya selesai menuai padi, biasanya diadakan acara Pappadendang. Diadakan oleh orang-orang yang pandai (ahli) mappadendang.

Kemudian dikumpulkan sanak saudara terdekat, serta seluruh masyarakat yang ada di dalam kampung datang menyaksikannya,” kata Laddu, tuan rumah hajatan mappadendang.

Mappadendang, biasanya terdiri dari empat wanita berbaju ‘bodo’. Merekalah yang menumbuk alu ke lesung secara bergilir-gilir. Sementara kaum lelaki memakai lilit kepala serta berbaju hitam sepanjang lutut, kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak merah.

Merekalah yang menyorak di ujung lesung. Ada juga yang menarikan pencak silat, saling menjulang sambil memalu gendang. Kadang-kadang duduk berjoget berkeliling. (*/tir)