Wahyuddin Junus
Sekretaris MASIKA ICMI Sulsel dan editor Buku ‘Politik Tim Sukses’
Kebanyakan manusia hidup di atas bumi tidak di dalamnya, seolah menarik sebuah proyeksi berlebihan pada pemihakan makrokosmos di tingkat realitas. Ekstrapolasi yang terkesan seketika, diskontinyu, dan terfragmentasi akan meniscayakan sesuatu yang partikular, karena sesuatu yang sifatnya aksidensial atau kuiditas (mahiyya) tak berhak untuk mengaburkan nilai-nilai universal akan keterbatasan metodologi pengetahuan. Ketercerabutan watak dan karakteristik pengetahuan, akan menjauhkan capaian tingkat aksi dari tingkat pemikiran.
Kenyataannya betapa pilar ‘tim sukses’ meng-integrasikan budaya politik dan tindakan manusia ke dalam sebuah kesatuan yang mutualisme dalam tatanan sosial politik di Indonesia.
Deskripsi di atas, tidak sama sekali ditulis untuk melegitimasi piramida eksistensi tim sukses sebagai hal yang hanya boleh dipahami dengan diam dan tak diusik sama sekali. Paham filsafat vitalisme menggariskan bahwa organisme hidup dikarunia-i suatu kekuatan hidup yang misterius dan bersifat ilahi. Adanya molekul-molekul yang membentuk organisme hidup mengikuti hukum-hukum kimia yang telah dikenal, tetapi molekul-molekul ini juga berinteraksi satu sama lain dengan hadirnya seperangkat prinsip lain, yang secara kolektif dinamai sebagai Logika Molekul Keadaan Hidup.
Prinsip-prinsip ini tidak harus melibatkan hukum-hukum atau kekuatan fisis yang baru dan yang belum ditemukan. Bahkan prinsip ini merupakan suatu hubungan yang unik dan memberikan ciri pada fungsi alam dan terjadinya interaksi Biomolekul, yaitu jenis-jenis molekul yang dijumpai pada organisme hidup. Dalam berbagai sisi tingkatan tubuh manusia didalamnya terhimpun tubuh, jiwa, dan ruh yang dipandang secara selaras dengan doktrin kekuasaan yang membentuk sebagai kesatuan utuh di mana semua bagian mengalami saling ketergantungan an sich.
Alfred North Whitehead coba membagi alam menjadi dua bagian, yakni alam yang ditangkap dengan kesadaran dan alam yang menyebabkan kesadaran. Perubahan pandangan dunia yang paling mengejutkan yang telah dilakukan oleh fisika baru adalah pengakuan bahwa kesadaran benar-benar memainkan peran dalam apa yang disebut alam fisik ini. Pun sejak zaman Newton, fisika selalu berusaha mempertahankan pendekatan yang sangat empiris. Sementara peran empirisme dalam sains selalu menuntut ketidakberpihakan seorang pengamat dan senantiasa terfokus pada realitas objektif sebagai “sesuatu” yang tunggal dan bisa diamati serta a priori terhadap kesadaran.
Tim sukses politisi adalah sebuah fenomena baru di dalam khasanah politik Indonesia modern. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, apalagi di jaman Orde Baru, tim sukses tidak pernah ada. Atau kalau pun ada, langsung terlibat dan include di dalam pemerintahan. Atau secara samar-samar ‘bersatu padu’ di dalam sistem kepegawaian (pegawai negeri). Dulu, banyak guru atau pejabat kantoran yang mengimbau rekan dan bawahannya untuk memilih partai yang didukung dan mendukung pemerintah.
Tetapi sejak tahun 2004, mulai kelihatan gejala tim sukses tersebut, terutama di dalam pemilihan presiden yang kemudian berlanjut turun menuju pemilihan gubernur dan bupati. Keberhasilan Susilo Bambang Yudoyono menjadi presiden, sebagian konon disebabkan oleh suksesnya. Tim sukses mengangkat pencitraan Susilo Bambang Yudoyono ke mata publik. Tim sukses itu konon dikomandani oleh para intelektual yang juga mempunyai lembaga survei dan berbagai jaringannya.
Kebebasan politik di Indonesia dan (dengan sendirinya) munculnya banyak politisi yang berminat terhadap posisi eksekutif, bahkan juga legislatif, membuat iklim kompetisi menjadi sangat ketat. Tidak bisa lain, untuk memenangkan kompetisi harus memerlukan ‘pelatih’ khusus yang akan mencoba menggali kelebihan dan kekurangan kandidat, dan kemudian mencuatkan kelebihan-kelebihan tersebut ke hadapan masyarakat. Kehadiran buku ‘Politik Tim Sukses: Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan’ beberapa waktu lalu hendak mengurai sepak terjang perilaku politik tim sukses dalam pilgub kemarin. Buku yang merupakan hasil disertasi Doktoral Rahmat Muhammad, salah seorang akademisi Unhas yang saat ini menjabat Sekertaris Jurusan Sosiologi FISIP Unhas. Ditengah hiruk pikuk jelang Pilgub Sulsel, buku ini tepat hadir ditengah minimnya karya-karya intelektual sosiopolitik di tingkat lokal.
Muara Tim Sukses adalah nilai penguatan citra
Boleh dikatakan penguatan citra inilah yang menjadi hasil dari dialektika kebebasan berpolitik dan kebebasan informasi. Sudah menjadi jelas, informasi di Indonesia sekarang sedang bebas-bebasnya berkembang. Inilah yang menjadi layar sasaran bagi para tim sukses politisi (calon presiden, gubernur atau bupati), demi keberhasilan junjungannya memperoleh suara. Jika berhasil membentuk citra positif di mata informasi, maka akan menjadi positif juga di mata masyarakat. Sesungguhnya ini metode kuno, karena telah dipakai oleh John F. Kennedy awal dekade enampuluhan. Pada waktu itu, pencitraan positif terhadap Kennedy sangat berhasil, sehingga masyarakat tidak ada yang tahu bahwa calon presiden tersebut sebenarnya mempunyai sakit tulang punggung.
Hal penting yang mesti diperhatikan dari konteks tersebut adalah bahwa konflik yang muncul antar kandidat di dalam sebuah kompetisi politik, sebagian besar akan menumpuk di tangan tim sukses. Inilah yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak yang kelak berkeinginan untuk menjadi tim sukses politisi pada tingkat apapun. Sebab, sekali citra terganggu, maka yang bertugas untuk memperbaiki itu adalah tim sukses kandidat, termasuk dengan menghadapi lawan yang membuat citra tersebut runtuh.
Jadi, sekali lagi, ketatnya, serunya persaingan antar kandidat politisi di masa depan, akan terlihat dari bagaimana sikap tim sukses terhadap gangguan yang diterima oleh junjungannya. Maka, mereka yang berkeinginan hendak berprofesi sebagai anggota tim sukses politisi, harus siap mental dan siap pengetahuan untuk menghadapi melorotnya citra sang kandidat. Siap-siap juga kecewa jika kelak tidak mendapat posisi apabila junjungannya menang atau tidak dibayar jika bimbingannya kalah.
Terlepas dari semua itu, fenomena ‘tim sukses’ telah menjadi sebuah realitas verbal yang kemudian menggurita dan menempeli semua papan-papan memori dan ingatan-ingatan, yang selanjutnya membuat berseminya arena perlombaan politik.
Tingkat keberhasilan dan peremajaan eksistensi manusia menjadi jargon sekaligus menjadi trend politik. Kehadiran ‘Tim Sukses’ dalam perpolitikan Indonesia cukup menegaskan bahwa calon pemimpin tidak dapat bergerak sendiri tanpa kehadiran pilar ‘tim sukses’. Terlepas dari peran partai politik, keberadaannya turut memberi andil yang sangat besar atas keterpilihan seorang calon yang diusung. Dukungan partisipatif dari tim sukses memberi efek yang signifikan dalam kancah perebutan tampuk kekuasaan.
Kita bisa menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, mereka dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi tercapainya tujuan dengan penuh semangat dan tentunya tidak sedikit tekanan. Semoga capaian berdemokrasi dalam pilkada bisa memberi kita pelajaran dan hikmah, dalam melihat realitas politik yang tak pernah habis untuk diceritakan. (*)

