DARI BAKTI SOSIAL RUMAH SAKIT SAYANG RAKYAT
LAPORAN: ACHMAD SHABIR
MAKASSAR, CAKRAWALA--RUGAIYA (38) tak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia bersama ketiga putrinya, Risma (18), Risna (16), dan Anti (8), dalam waktu dekat akan kembali bisa melihat indahnya dunia dengan jelas.
Rugaiya menderita katarak sejak puluhan tahun lalu. Siapa sangka penyakit ini diturunkan kepada ketiga putrinya. Antusiasme yang paling kuat tampak dari raut wajah Risma.
Bagaimana tidak, sejak kelas satu sekolah dasar, gadis remaja ini harus putus sekolah karena sudah kehilangan daya melihatnya. Berkat niat baik sejumlah sponsor yang berbakti sosial di RS Sayang Rakyat, Makassar, penderitaannya selama belasan tahun akan terhapuskan melalui program operasi katarak gratis dan bibir sumbing yang dilakukan, Sabtu, 23 Juni kemarin.
Rugaiya berasal dari pelosok Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), tepatnya di Desa Bapange, Kecamatan Panca Lautang. Profesi suaminya Lodding (40) yang hanya petani, tak mampu membiayai biaya operasi katarak keempat anggota keluarganya. Sekali operasi biayanya bisa mencapai Rp12 juta higga Rp13 juta per pasang mata.
Adalah Paur Kesehatan Polres Sidrap, Aiptu Muhammad Tahir, yang menemukan keluarga penderita katarak ini berkat informasi dari Babinkantibmas Polres Sidrap. Dia pula yang mengantar dan mendaftarkan keempat perempuan ini ke RS Sayang Rakyat.
Dokter Spesialis Mata, dr Andreas Sopyandi, yang menangani keluarga ini mengatakan, dia bersama tim dokter lainnya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengakhiri penderitaan keluarga Lodding.
Andreas mengaku paling prihatin dengan kondisi Risma. Karena kehilangan daya lihat total, Risma harus pasrah menerima kenyataan bahwa dia tak bisa menjalani hidup penuh romansa sebagaimana gadis-gadis seusianya.
Sayangnya, kondisi Anti yang masih belia, hingga kemarin masih dalam pertanyaan apakah bisa menjalani operasi ataukah tidak. Pasalnya operasi dengan anestesi tidak sembarang bisa dilakukan kepada anak yang masih belia.
“Yang paling kecil ini bisa dioperasi tapi harus di check-up dulu. Kita harus periksa kondisi jantung dan lain-lain hal karena pemakaian obat bius tidak bisa asal untuk anak kecil,” kata Andreas.
Dari Direktur RS Sayang Rakyat, dr Andi Khasma Padjalangi, diketahui, telah tercatat lebih 1000 orang penderita katarak di Sulsel, umunya berusia lanjut. Namun karena keterbatasan dana, tidak sampai separuh yang bisa ditolong melalui bakti sosial ini.
“Kami sekarang sementara menunggu sponspor. Kalau rumah sakit ini siap dan standby digunakan kapan saja, semua gratis, dari peralatan sampai tenaga dan rawat inap kami siap. Sekarang tinggal dukungan sponsor. Kalau ada sponsor lagi, kita akan lakukan bakti sosial ini lagi.
Tapi untuk tahap pertama ini, biaya yang tersedia hanya cukup menolong hingga 500 pasien katarak maupun bibir sumbing,” kata Khasma.
Hingga kemarin, diketahui telah terdaftar 235 penderita katarak dan 212 penderita bibir sumbing. Jumlah ini masih bisa bertambah mengingat kuota operasi mencapai 500 pasien.
Sementara tercatat 221 pasien katarak dan 64 pasien bibir sumbing yang menjalani operasi. Bakti sosial yang berlangsung selama dua hari ini, terlaksana berkat kongsi berbagai pihak.
Selain Pemprov Sulsel dengan RS Sayang Rakya dan Polda Sulselbar dengan RS Bhayangkara, sejumlah lembaga dan bahkan pribadi perorangan turut membantu dengan tenaga maupun obat-obatan dan peralatan penting lainnya.
Diantaranya Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dan Yayasan Ranah Minang dari Sumbar dan Riau, Persatuan Dokter Spesialis Mata (Perdami) RSPAD, RS Hasan Sadikin, ERHA Clinic, RS Bhayangkara, dan RS Sayang Rakyat.
Selain itu, pengusaha asal Sulsel, Imelda Obey, juga turut membantu dengan menyediakan lensa mata untuk penderita katarak. Imelda Obey, saat ditemui mengatakan, secara rutin setiap tahun, dia memang menggelontorkan sejumlah dana pribadinya untuk membantu masyarakat kurang mampu yang menderita katarak di Sulsel. (tir)




