Rab05222013

Last update12:41:52

Usman: Penjual Ikan Lebih Beraklak Ketimbang Timses

MAKASSAR, CAKRAWALA – Beredarnya black campaign atau kampanye hitam jelang Pilgub Sulsel mendapat kritikan pedas dari politisi PAN, Usman Lonta. Terlebih karena adanya indikasi black campaign dilakukan tenaga profesional atau konsultan yang biasa disebut tim sukses (timses).

Usman yang menjabat Wakil Ketua DPW PAN Sulsel, bahkan menyebut penjual ikan lebih berakhlak daripada timses yang melakukan aktivitas black campaign.

“Sepertinya penjual ikan lebih berakhlak karena sekalipun ada persaingan tapi mereka tidak pernah menjelek-jelekkan ikan yang dijual penjual sebelahnya. Tim sukses harus sadar, masa lebih bermoral penjual ikan dibanding tim sukses,” kata Usman di Gedung DPRD Sulsel, Rabu, 18 Juli.

Tanggapan Usman ini adalah tambahan atas pernyataan Direktur Eksekutif Indeks Politica Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir, yang memprediksi black campaign terhadap pasangan Syahrul Yasin Limpo (Sayang), dilakukan oleh tenaga profesional yang mendukung kandidat tertentu.

Dia menyebutkan, black campaign bisa merugikan dan juga bisa menguntungkan objek yang diserang tergantung suasana saat itu. Namun kecendrungan black campaign tidak bermakna, jika figur yang dialamatkan, memiliki prestasi yang bagus selama menjabat.

“Biasanya yang melakukan black campaign adalah tim profesional yang mendukung dan membantu salah satu calon. Dan sangat disayangkan perbuatan itu merusak citra demokrasi di Sulsel,” beber Suwadi, Selasa, 17 Juli.

Selain itu, dengan dekatnya Ramadhan, Usman Lonta yang juga merupakan Dosen Fakultas Agama di Unismuh Makassar, meminta pelaku black campaign untuk menghargai kesucian Ramadhan dengan tidak melakukan aktivitas yang membatalkan puasa tersebut.

Meski sebagai strategi, black campaign, termasuk strategi tipu muslihat yang dianggap wajar. Namun, menurut Usman, tipu muslihat dalam politik tidak diperkenankan, dan juga membatalkan puasa.

“Kalau dalam perang sesungguhnya Islam membenarkan tipu muslihat, dalam arti bisa membohongi musuh. Tapi kalau memperebutkan simpati dalam politik itu tidak identik dengan perang. Jadi kalau ada yang melakukan tipu muslihat politik selama Ramadhan, puasanya batal,” kata Usman. (del/soe)