FIGUR
Asisten IV Pemkot Makassar, Apiaty Kamaluddin Amin Syam, memperingatkan Pertamina Region VII agar mengevaluasi kajian hasil kegiatan program Sehat Anak dan Ibu Tercinta (Sehati), meski sebenarnya sudah dalam kondisi baik.
Program Sehati yang merupakan salah satu kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) Pertamina berfokus pada kesehatan kaum Ibu, bayi, dan balita.
Pentingnya evaluasi hasil itu, kata Apiaty, karena selama dua tahun berturut-turut CSR Pertamina melalui program SEHATI di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan telah bersinergi dengan baik dalam mengurangi angka kematian bayi dan balita, serta ibu melahirkan.
“Kegiatan program Sehati dari CSR Pertamina ini sangat bagus dan bermanfaat, hanya saja perlu mendapat kajian. Sebab, di Kota Makassar secara umum Sulsel angka kematian bayi dan balita, serta ibu melahirkan kita rendah,” kata Apiaty usai membuka acara program Sehati Pertamina-PKBI di Aula Kantor Camat Mariso, Kamis, 7 Juni.
Untuk itu, sejalan dengan salah satu tujuan dalam Millenium Development Goals (MDGs), yaitu mengurangi angka kematian bayi dan balita serta ibu melahirkan, maka Pertamina bekerjasama dengan perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) Sulsel untuk membidik program yang masih dinilai kurang untuk dibenahi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisyah T Asikin, mengatakan, pihaknya menyambut baik respon Pertamina yang telah dua tahun berturut-turut menggelar program Sehati di Kota Makassar.
“Alhamdulillah kita di Sulsel khusunya Kota Makassar telah berhasil menekan tingkat kematian Ibu dan anak dengan hasil terendah tingkat nasional. Untuk itu dalam melayani masyarakat dalam hal kesehatan, khususnya terkait gizi dan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Pemkot Makassar memiliki 38 Puskesmas dan Posyandu yang tersebar di berbagai kelurahan,” kata Naisyah. (ran/ism)




